Nama terapi plasma darah semakin mendapatkan tempat dalam sejarah pengobatan di dunia seiring munculnya Flu Spanyol pada 1918.
Nggak kurang dari 50 juta orang di muka Bumi harus kehilangan nyawanya akibat Flu Spanyol.
Nama terapi plasma darah semakin mendapatkan tempat dalam sejarah pengobatan di dunia seiring munculnya Flu Spanyol pada 1918.
Jika berhasil selamat dari wabah tersebut, baik nggak tertular maupun sembuh, generasi ini bisa 'bersantai' selama beberapa tahun, mungkin untuk menyelesaikan pendidikan hingga kemudian mulai bekerja.
Baca Juga: Kocaknya 3 Podcast Komedi Ini Cocok untuk Menghibur Selama Karantina Mandiri
Tapi, pada usia 29 tahun, mereka harus bersiap menghadapi bencana ekonomi yang disebut 'Depresi Hebat.
Saat itu, tingkat pengangguran mencapai 25%, PDB global turun sampai 27%.
Baca Juga: 18 Orang Ditembak Mati hingga Hotel Dirobohkan Jika Langgar Aturan Lockdown, Inilah Kerasnya Hukum di Nigeria untuk Pelanggar Lockdown
Selama 4 tahun, kondisi ini mau tak mau harus mereka jalani, walau akhirnya bersyukur bahwa ekonomi dunia yang hampir runtuh akhirnya bisa terselamatkan.
Namun, ketika mulai sibuk dengan sekolah anak, yaitu saat berusia 39 tahun, Perang Dunia II dimulai.
Baca Juga: Melihat Isi Jet Pribadi Terbesar di Dunia yang Terlihat Seperti Hotel Bintang Lima
Mereka harus menyaksikan 75 orang meregang nyawa akibat perang dan 6 juta orang meninggal karena Holocaust saat mereka berusia 39 hingga 45 tahun.